Postingan

Ustadz Aan Parhani

Gambar
  Kau ingin tahu seberapa bijaksananya beliau? Kau bisa datang kepadanya, menceritakan tentang kehidupanmu yang tak baik-baik saja, yang biasa-biasa saja, yang cenderung menyimpang dari kawan-kawanmu yang lain, dan kau akan tetap merasa nyaman setelah mengatakannya. Kau tidak pernah merasa dihakimi di hadapannya. Wajar saja bila kami menyebutnya sebagai orangtua kami. Maknanya bisa menjadi lebih luas dan intim, tempat kami menaruh hormat, tempat kami mengambil teladan, tempat kami mendapatkan nasihat, tempat kami menceritakan segala hal, tempat yang harus kami kunjungi setiap kali berada di kota yang sama. Kami anak-anaknya setelah lulus dari UIN, meninggalkan asrama Ma’had Aly, akhirnya mulai berpencar. Ada yang melanjutkan studi di UIN dan tinggal ngekos di sekitaran kampus, ada pula yang melanjutkan studi di luar Makassar. Tidak sedikit pula yang melanjutkan hidup ke jenjang yang lain, ada yang menikah dan berkarir, ada yang fokus berkarir. Namun setelah berpencar dan berp...

Indo

Gambar
  Hampir pukul dua dini hari, beberapa panggilan susul-menyusul, kukira hanya alarm hp, ternyata panggilan telepon dari rumah. " Indo meninggal dunia baru saja." Kemudian kami diam, kosong sekali rasanya. *** Kami memanggilnya Indo . Aku banyak menghabiskan masa kecilku di rumah Indo . Rumah kami bersebelahan, di sisi timur adalah rumahku dan rumah Indo terletak di bagian selatannya. Ketika aku masih berusia entah delapan atau bahkan lebih muda dari itu, aku sangat sering menyengaja datang ke rumah Indo di hari senin, sangat menyenangkan melihat Indo baru saja pulang dari pasar, membawa begitu banyak barang belanjaan untuk dijual kembali, aku terhibur melihat banyak karoppo berhadiah yang akan dijual. Pada usia-usia itu aku juga sangat mengingat bagaimana kami para cucunya senang sekali menghabiskan waktu di rumah Indo . Kami sering sekali makan di sana, menu makanan kesukaan kami adalah telur dadar, lauk yang biasanya kami makan berempat pun pasti tetap cuk...

Purnama di Balik Hujan

Gambar
“Di sebuah kebangkitan di masa mendatang, kelahiranmu akan ditentukan oleh cara kematianmu. Kebangkitanmu adalah cerminan dari kematianmu.” Nasihat ibuku sebelum ia meninggal. Penuh penyesalan, menyisakan tanya. Tidak ada penjelasan yang kuperoleh setelah kematian ibu. Aku hanya berusaha menerka-nerka apa maksud dari kalimat itu dengan mengamati segala kejadian yang ada di sekitarku. Tiga hari yang lalu, di sebuah kompleks dekat kampusku terjadi pembunuhan seorang anak kecil berumur tiga tahun. Pembunuhan tragis dengan cara menggantung Adel—anak kecil itu—dengan tali pengikat sapi hingga lehernya tercekat dan tak mampu lagi bernapas. Lalu, hari ini tepat saat aku pulang dari kampus, melewati gang kompleks, aku kemudian menemukan seekor anak ayam dengan bulu sedikit lebat di bagian dada, namun terlihat renggang di bagian leher.   Kutelisik, lalu kudapati di bagian lehernya terdapat luka jeratan. Ah, kau Adel, bukan?   Tiga bulan yang lalu, pada sebuah malam...

Penantian yang Menua

Gambar
Aku menangis sesaat setelah telepon itu terputus. Menyesali mengapa aku tak pernah berani mengungkapkan ini padanya, aku tidak ingin dia lulus di Universitas itu. Banyak hal yang menjadi ketakutanku jika kelak dia lulus di sana, termasuk karena aku tidak ingin ditinggalkannya. Sudah setahun, ketakutan-ketakutan itu terus menghantuiku. Sudah setahun pula kalimat-kalimat itu kupendam. Jangan tinggalkan aku, Agil! Jangan membuatku terlalu lama menunggu! Agil, kumohon mengertilah perasaanku! Agil, adalah yang mengajarkanku tulusnya mencintai dan dicintai. Bahwa cinta tidak hanya sekadar kalimat indah tanpa bukti, bahwa untuk setia pada cinta janji tidaklah dibutuhkan. Aku tahu itu, secara tersirat kami telah sepakat untuk setia, tanpa janji. Namun entah mengapa pendirianku tiba-tiba saja tergoyahkan. Bukan karena aku berniat untuk berpaling dari hatinya, bukan. Aku hanya … hhh. Selalu saja aku merasa sesak jika mengingat bahwa umur Agil bahkan lebih muda dariku. Aku menja...

Mata Kosong Mei

Gambar
  Dia bukan pengingat yang baik. banyak hal-hal baik yang terjadi dalam hidupnya dan bisa begitu mudah dilupakan bahkan hanya dalam hitungan jam. Belum lagi percakapan sederhana yang terjadi antara ia dan kawannya di warung kopi, sesimpel itu dan ia bisa lupa sepersekian detik setelah diperbincangkan. Bahkan Mei sendiri mengkhawatirkan kejiwaannya, sejak kapan kiranya fokusnya tidak terkontrol sedemikian rupa, mengapa ia bisa berbalas kalimat dengan orang di hadapannya tapi pandangan matanya kosong tak ada isi, pikirannya melanglang buana entah ke mana, ke siapa. Kini ia mencoba meraba-raba hal buruk apa yang telah terjadi di masa ia kecil. Beruntungnya atau celakanya, untuk kenangan menyakitkan, ia justru tak mudah lupa. Dan di sanalah fokusnya tertuju, pada peristiwa sederhana hingga luar biasa yang terus saja menghantui kapan pun ia mencoba bersikap normal. Dirman masih mengutarakan lelucon basi di hadapannya tentang minuman apa yang sangat perhatian ketika i...