Ustadz Aan Parhani
Kau ingin
tahu seberapa bijaksananya beliau? Kau bisa datang kepadanya, menceritakan
tentang kehidupanmu yang tak baik-baik saja, yang biasa-biasa saja, yang cenderung
menyimpang dari kawan-kawanmu yang lain, dan kau akan tetap merasa nyaman
setelah mengatakannya. Kau tidak pernah merasa dihakimi di hadapannya.
Wajar saja
bila kami menyebutnya sebagai orangtua kami. Maknanya bisa menjadi lebih luas
dan intim, tempat kami menaruh hormat, tempat kami mengambil teladan, tempat
kami mendapatkan nasihat, tempat kami menceritakan segala hal, tempat yang harus
kami kunjungi setiap kali berada di kota yang sama.
Kami
anak-anaknya setelah lulus dari UIN, meninggalkan asrama Ma’had Aly, akhirnya
mulai berpencar. Ada yang melanjutkan studi di UIN dan tinggal ngekos di
sekitaran kampus, ada pula yang melanjutkan studi di luar Makassar. Tidak sedikit
pula yang melanjutkan hidup ke jenjang yang lain, ada yang menikah dan
berkarir, ada yang fokus berkarir. Namun setelah berpencar dan berpisah pun,
kami akan selalu disatukan pada sebuah momen. Ketika tiba-tiba kami berkunjung
ke Makassar karena suatu hal, maka Ibu (panggilan kami kepada istri Ust. Aan)
tidak pernah luput mengajak kami ke rumahnya, biasanya kami diajak untuk
makan-makan masakan Ibu.
Kebiasaan
ini barangkali terlihat biasa saja, namun sebenarnya tidak. Ini sangat luar
biasa, menunjukkan bahwa Ust. Aan dan Ibu selalu ingin tahu kabar kami, dan
layaknya orangtua kami, ia juga rindu pada anak-anaknya. Bukti rindu yang ia
curahkan dalam bentuk masakan menyambut kedatangan anak-anaknya.
Dalam
perjumpaan itulah kami bisa leluasa bercerita tentang apa pun. Kita tidak perlu
berpura-pura soleh dan menjadi orang lain agar tetap dianggap anak-anaknya,
tetap menjadi diri sendiri di hadapannya tidak membuatnya mengabaikan kita atau
menatap kita dengan pandangan berbeda. Level kebijaksanaannya sedemikian besar,
dan tidak banyak orang dapat melakukan itu.
Layaknya orangtua
kami, ia selalu berusaha menyempatkan diri hadir pada pesta pernikahan alumni Ma’had
Aly. Tidak hanya satu atau dua kali, tidak hanya untuk daerah sekitaran
Makassar namun melintasi provinsi bahkan laut pun ia mengusahakan hadir. Ia tak
pernah pilih kasih dan membeda-bedakan anak-anaknya, baginya semua sama dan
istimewa.
Saya tidak
punya ingatan melihat Ust. Aan marah, bahkan ketika ia menjadi pendamping kami
melakukan kuliah lapangan ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur selama
beberapa hari, tidak sekali pun saya melihatnya kesal atau mendengar suara
bentakannya. Hal yang terjadi justru sebaliknya, kami banyak tertawa bersama terutama
ketika momen-momen mengambil foto.
Pada perjalanan
tersebut, barangkali karena ia telah menganggap kami dewasa dan tahu mengambil
keputusan, ia menjadi pendamping kami namun bukan berarti ia mengatur kami
sedemikian rupa, tidak terucap dari mulutnya tentang larangan ini itu, atau
teguran semacamnya. Namun sebagaimana yang diharapkannya, kami memang tahu
batasan. Justru pembebasan semacam ini membuat kami ikut lebih bijak dalam
bertindak. Ada ketakutan membuatnya kecewa setelah menyerahkan seluruh percaya.
Lagi-lagi, kebijaksanaannya sungguh sulit kami dapatkan pada orang lain.
Kini orangtua
kami telah berpulang, dosen kami yang paling ramah, paling tidak pilih kasih,
paling bijaksana, yang senyumannya selalu terasa sesejuk nasihat bapak. Kami
akan rindu, Ustadz.


Komentar