Penantian yang Menua
Aku menangis
sesaat setelah telepon itu terputus. Menyesali mengapa aku tak pernah berani
mengungkapkan ini padanya, aku tidak ingin dia lulus di Universitas itu.
Banyak hal yang
menjadi ketakutanku jika kelak dia lulus di sana, termasuk karena aku tidak
ingin ditinggalkannya.
Sudah setahun,
ketakutan-ketakutan itu terus menghantuiku. Sudah setahun pula kalimat-kalimat
itu kupendam. Jangan tinggalkan aku, Agil! Jangan membuatku terlalu lama
menunggu! Agil, kumohon mengertilah perasaanku!
Agil, adalah yang
mengajarkanku tulusnya mencintai dan dicintai. Bahwa cinta tidak hanya sekadar
kalimat indah tanpa bukti, bahwa untuk setia pada cinta janji tidaklah
dibutuhkan.
Aku tahu itu, secara
tersirat kami telah sepakat untuk setia, tanpa janji. Namun entah mengapa
pendirianku tiba-tiba saja tergoyahkan. Bukan karena aku berniat untuk
berpaling dari hatinya, bukan. Aku hanya … hhh.
Selalu saja aku
merasa sesak jika mengingat bahwa umur Agil bahkan lebih muda dariku. Aku
menjadi semakin sesak tatkala mengingat ucapannya seminggu yang lalu, “kau
harus percaya padaku, Re, bahwa mungkin empat tahun ke depan, aku akan menjadi
pendamping hidupmu yang takkan kau sesali.”
Empat tahun? Apa
itu berarti dia akan menikahiku empat tahun lagi?
Ya, dia memang sangat bercita-cita untuk lulus
di universitas itu. Tempat yang diharapkannya suatu hari bisa mewujudkan
mimpinya menjadi teknisi terbaik. Aku senang dengan impiannya itu. Aku pun
sangat berharap jika suatu hari nanti itu bisa benar-benar terwujud. Namun kemudian
adalah, antara cita dan cintanya tentu akan ada satu yang harus dikorbankannya.
Jika ingin mencapai cita, maka harus melepaskan cinta setidaknya untuk
sementara, begitu pun sebaliknya.
Aku sudah tahu apa
yang akan dikorbankan Agil, setelah meresapi segala percakapanku akhir-akhir
ini dengannya melalui telepon, aku bisa menyimpulkan dia akan tetap mengejar
cita-citanya.
Aku dilema, aku
takut. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat bagi wanita dalam masa
penantian. Banyak hal yang akan terjadi pada masa itu, termasuk godaan-godaan
pada hati untuk terus menyeleweng. Tapi percayalah, untuk hal yang satu ini, aku
tidak akan melakukannya, semoga. Sudah sering kupinta pada Tuhan untuk menjaga
hatiku ini untuk satu orang saja, dia yang kelak menjadi pendamping hidupku tak
peduli selama apa pun ia membuatku menantinya.
Kurasa, aku
benar-benar harus belajar tanpa dirinya. Sudah sering dia membuatku
merindukannya, membuat airmataku jatuh diam-diam. Sering kupinta padanya, Agil,
jangan tinggalkan aku! Ya, dia akan selalu menjawabnya dengan “iya” walau
sebenarnya hal yang kumaksud adalah, jangan menyikasku dengan kerinduan yang
begitu lama. Dia tidak memahami itu, dan itu adalah salahku. Aku tidak
pernah mengatakannya secara jelas. Kurasa tidak perlu mengatakan itu, toh,
impiannya bahkan akan selalu penting. Jika ia menyia-nyiakan kesempatan
terakhir ini, maka entah kapan lagi ada kesempatan yang lain. Sedangkan aku?
Aku bahkan sudah memberi jaminan untuk tetap menunggunya. Menanti dengan penuh
kesetiaan.
Ah, sudahlah! Toh,
besok Agil akan mengikuti tes itu. Tes yang akan menentukan impiannya. Aku
hanya bisa mendoakan yang terbaik. Oh, dusta! Aku hanya bisa mendoakan, semoga
Agil tidak lulus di Universitas itu. Maafkan aku yang terlalu egois, Agil.
Jika pun pada
akhirnya dia lulus di sana, aku akan menantinya hingga waktu pun kemudian
merubah segala yang ada pada diriku; hati yang semakin merindu, dan mungkin
saja rambut yang secara perlahan kehilangan warna hitamnya ditelan waktu. Ya,
aku menua dalam masa penantian itu.
***
“Kau tahu, kan,
ini adalah impianku sejak dulu?” Agil menatapku yang tengah menangis. Sesaat
lagi dia akan meninggalkanku, dan tentu saja itu menyakitiku.
“Aku tahu,” sambil
menganggukkan kepala, aku menjawab pertanyaan Agil dengan singkat. Ah, sungguh
dia benar-benar tega melakukan ini. Harus berapa lama lagi aku menanggung
segala kerinduan ini? Sebelum ia pergi pun aku sudah merasakan rindu yang
begitu besar, berat dan menyesakkan dada.
“Percayalah bahwa
rindumu bahkan tidak mampu mengalahkan rinduku.” Satu kalimat yang diucapkannya
sebelum kemudian ia menarik koper dan berjalan masuk ke ruang tunggu. Tanpa
menoleh dan membiarkanku tetap menangis.
Ingin rasanya
bibir ini memanggil namanya sebelum punggungnya benar-benar hilang dari
pandangan, mengucapkan selamat tinggal dan satu kalimat yang ingin kuucapkan, tetaplah
menyetia meski jarak memisahkan kita.
Empat tahun lagi.
Bayangan itu yang terus terlintas dalam benakku dan seakan menari-nari tepat di
depan mataku. Aku rindu, aku ingin bertemu dengannya. Sekuat tenaga, aku pun
selalu berdoa pada Tuhan, semoga Dia tidak membuatku jatuh cinta pada orang
yang selalu berada di dekatku hingga aku menjadi berkhianat pada cinta yang
begitu istimewa dalam hatiku. Sebab bukankah sebuah kalimat mengatakan, pada
akhirnya yang istimewa akan dikalahkan dengan yang selalu ada.
Aku mengurung diri
di kamar untuk beberapa saat. Mencoba memulihkan perasaan yang belum stabil
sejak kepergian Agil untuk menuntut ilmu, menggapai cita-citanya.
Hingga di minggu
ke dua seorang teman datang ke rumah, mengajakku untuk ikut dengannya ke suatu
tempat yang menurutnya indah. Apa yang harus kulakukan? Pada akhirnya
aku pun mengikuti keinginannya. Mungkin ini adalah salah satu cara bagiku untuk
sejenak melupakan rasa rindu yang terus menikam.
Menginap dua hari
di sebuah motel membuatku semakin akrab dengan Ardan, teman yang entah mengapa
menghadirkan rasa yang berbeda dalam hitungan dua hari.
“Kau baik-baik
saja, kan?”
“Iya, aku
baik-baik saja.” Jawabku pelan sambil menengadahkan wajah ke langit. Malam
terakhir di motel ini. Besok kami akan kembali dengan berbagai cerita, beberapa
kenangan dan mungkin saja satu perasaan yang sulit untuk kujelaskan.
Agil …
Nama itu sebisa
mungkin harus tetap kulafalkan di dalam hati. Aku tidak boleh menjadi selemah
ini. Baru dua minggu dan tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang berbeda pada
seorang temanku? Tidak. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang berkhianat itu.
Tuhan!
Kugigit bibir ini,
berusaha menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk. Aku bimbang dan semuanya terasa
semakin sesak. Ada dua nama yang tiba-tiba muncul dalam kepalaku, Agil dan
Ardan. Namun entah mengapa, satu nama tiba-tiba terasa lebih mendominasi
terhadap nama yang selama ini bahkan selalu menghadirkan rasa rindu ketika
menyebutkannya.
“Tidak usah
khawatir, aku ada di sini, kok.” Tiba-tiba Ardan berbicara. Mengucapkan satu
kalimat yang mengagetkan lamunanku. Pandanganku yang kosong pada langit seakan
terasa semakin kosong.
Justru karena kau
ada di sini sehingga aku menjadi khawatir.
Sebuah kalimat
yang begitu ingin kukatakan namun tetap kutahan agar tidak terucap. Ardan tidak
boleh tahu tentang perasaanku yang secara tiba-tiba padanya.
“Kamu menangis,
Re.”
Apa? Aku bahkan menangis tanpa menyadarinya.
“Aku ingin pulang
malam ini juga, Ardan. Aku tidak seharusnya di sini bersamamu.”
“Maksud kamu? Tapi
kita kan tidak melakukan apa-apa. Hei, jelaskan padaku apa yang terjadi?”
“Aku hanya, aku
….” Kalimatku tertahan. Entah mengapa aku merasa sulit untuk mengatakannya.
“Katakan saja, Re,
aku tidak masalah, kok.” Ardan memelankan suaranya. Membuatku luluh seketika.
“Aku hanya takut
jika jatuh cinta padamu atas dua hari yang telah kita lalui ini.” Akhirnya
kalimat itu keluar tanpa beban. Ada perasaan lega sesaat telah mengucapkannya.
“Lalu apa
masalahnya, Re? Kau tidak perlu takut sebab aku pun mencintaimu.”
Seharusnya Ardan
tidak mengatakan itu. Ini hanya akan membuatku sulit mengambil keputusan. Duh,
Tuhan, betapa sulitnya menyetia pada satu hati.
“Aku memiliki
Agil, Ardan. Aku ingin tetap setia pada cintanya.”
Kami akhirnya
terdiam beberapa saat. Ardan menatapku dengan pandangan yang sama sekali tak
bisa kuterjemahkan.
Aku ingin menyetia
bagaiamanapun caranya, betapapun rasa sakit yang menyiksaku dan seberapapun
lamanya Agil membuatku menanti.
Kalimat itu terus
kuucapkan dalam hati. Semoga saja bisa menguatkanku dan tetap menyetia pada
cinta Agil.

Komentar