Begitu Cepat, Begitu Tiba-Tiba
Nyaris 12 tahun berlalu. Kejadiannya di pertengahan tahun 2012, jelang hari wisuda penamatan santri. Saya dan beberapa orang teman sedang berada di asrama ketika sebuah berita mengejutkan datang begitu tiba-tiba. Pak Juma--begitulah kami menyebut namanya--telah meninggal dunia. Innaalillaahi wa innaa ilaihi rajiuun.
Mendadak lemas. Tak ada daya. Saya bahkan meneteskan air mata. Perasaan tidak hanya sepi, tapi benar-benar kosong melompong. Terhitung 6 tahun lamanya, nyaris setiap hari, saya menyetorkan hafalan di hadapannya.
Iya, sudah hampir 12 tahun berlalu sejak kepergiannya, namun siapa menyangka, bahwa berulangkali malam-malam menjelang tidurku air mata tiba-tiba menetes bila mengingatnya. Entah harus dijelaskan seperti apa, namun saya pribadi merasa hubungan dengan Pak Juma layaknya bapak dan anak. Seorang bapak yang tidak hanya menasihati atau menjadi teladan, lebih dari itu ia benar-benar hadir di sana memberikan kehangatan.
Ada perasaan sakit di hati setiap kali teringat sosoknya yang sudah berpulang. Kadang rasanya tidak rela ia dipanggil begitu cepat. Untuk sosok sebaik dirinya, mengapa Tuhan tidak membiarkan lebih banyak orang berinteraksi dan mengenal sosoknya lebih jauh.
Pak Juma nyaris tak pernah marah. Saya katakan nyaris sebab nyatanya dia pernah marah. Saya ingat dua momen. Pertama ketika kami satu kelas tidak satu pun menyetorkan hafalan, padahal dia sudah duduk di sana kurang lebih setengah jam, menunggu kami menghadapnya lalu menyetorkan hafalan. Kala itu ia beranjak dari duduk silanya, meraih sajadah yang tadi diduduki, melipatnya memanjang lalu menyerempet kepala kami satu per satu dengan sajadah tersebut. Saya yakin itu dimaksudkan sebagai pukulan, tapi sebuah pukulan harusnya memberikan rasa sakit, nyatanya pukulan sajadah Pak Juma tidak hanya tidak sakit, namun juga hanya sekadar lewat di atas kepala kami.
Kemarahannya yang kedua justru sangat tidak diperkirakan. Sore itu sehabis salat ashar yang dipimpin olehnya, Pak Juma melarang seluruh santri meninggalkan tempat mereka. Lalu dalam keadaan murka yang tidak dapat disembunyikan, Pak Juma berdiri sembari memegang sebuah botol minum plastik. Di dalamnya terdapat cairan berwarna kekuningan yang tak diragukan lagi adalah air kencing.
Pak Juma berang bukan main. Ternyata sudah terjadi beberapa kali santri dari lantai dua, yang memang kamar mereka tidak memiliki kamar mandi, menunaikan hajatnya melalui botol. Botol yang kemudian dilemparkan ke belakang asrama tepat di mana rumah Pak Juma berada.
Sore itu tidak ada yang mengaku. Siapa pula yang akan mengakui perilaku memalukan dan menjijikkan itu. Lagi pula tidak ada yang benar-benar yakin bahwa botol berisi air kencing yang dipegang Pak Juma itu adalah miliknya. Sebab tidak hanya satu orang yang pernah melakukannya, ada beberapa orang lainnya.
Di sore sehabis ashar itu, semua lelaki mendapatkan cambukan di betisnya. Tiada ampun untuk perilaku tak beradab mereka.
Ada momen berani yang telah dilakukan Pak Juma, yang secara tidak langsung, membentuk cara pandang saya terhadap pesantren saya.
Biasanya ketika ada tahlilan untuk orang meninggal, selalu yang dibawa oleh Pak Juma adalah rombongan santri laki-laki. Ini jelas membuat perasaan iri pada kami pihak perempuan. Mengapa para laki-laki yang selalu diajak, padahal untuk urusan membaca al-qur'an, perempuan pun bisa. Kalau perkara bacaan kami perempuan lebih lambat dan mereka para lelaki lebih cepat, itu bisa dilatih.
Maka tanpa rasa malu saya beserta beberapa lainnya pun mengajukan protes pada Pak Juma. Bahwa kami juga ingin turut serta bila ada panggilan mengaji untuk jenazah. Sebenarnya bila ditanya mengapa begitu ingin, apa istimewanya mengaji di hadapan orang meninggal? Ya jawabannya memang bukan tentang itu. Tapi bagaimana biar kami merasa setara dan tidak dibeda-bedakan, juga biar kami punya kesempatan menghirup udara luar dan bisa bolos dari pelajaran bahasa sehabis makan malam.
Siapa bakal menyangka bahwa Pak Juma benar-benar mengabulkannya. Ada beberapa kali kami para santri perempuan diberikan kesempatan untuk ikut, meski memang para santri laki-laki juga tetap diikutkan. Namun ini menjadi langkah yang sangat besar, sebuah keputusan yang teramat benar, membuat kami merasa tidak lagi dianggap lebih rendah dibanding santri laki-laki.
Kalau dipikir-dipikir, Pak Juma memang senang memberikan kesempatan dan pengalaman baru.
Kala itu tahun 2007, saya belum genap setahun berstatus sebagai santri, hafalan saya juga baru satu juz, itu pun masih banyak lupa. MTQ akan diadakan di Kecamatan Baula. Beberapa kecamatan yang tidak mempunyai sumber daya di beberapa cabang lomba biasanya akan meminta pada pesantren kami beberapa perwakilan. Saya salah satu yang ditunjuk Pak Juma untuk ikut lomba 1 Juz mewakili Kec. Wundulako. Terang saja saya menolak, pertama karena hafalan belum lancar, kedua karena belum punya pengalaman sebelumnya. Tapi tidak semua anak-anak Pak Juma diutus untuk mendapatkan juara, sebagiannya ia utus agar mendapatkan pengalaman berharga.
Andai saja masa itu saya tidak mengambil kesempatan yang diberikan, barangkali hidup saya akan jadi biasa-biasa saja. Tidak punya banyak pengalaman, tidak pula banyak kenalan baru.
Hingga kini saya masih sering menggugat. Mengapa begitu cepat, mengapa begitu tiba-tiba?

Komentar