Purnama di Balik Hujan




“Di sebuah kebangkitan di masa mendatang, kelahiranmu akan ditentukan oleh cara kematianmu. Kebangkitanmu adalah cerminan dari kematianmu.” Nasihat ibuku sebelum ia meninggal. Penuh penyesalan, menyisakan tanya.

Tidak ada penjelasan yang kuperoleh setelah kematian ibu. Aku hanya berusaha menerka-nerka apa maksud dari kalimat itu dengan mengamati segala kejadian yang ada di sekitarku.

Tiga hari yang lalu, di sebuah kompleks dekat kampusku terjadi pembunuhan seorang anak kecil berumur tiga tahun. Pembunuhan tragis dengan cara menggantung Adel—anak kecil itu—dengan tali pengikat sapi hingga lehernya tercekat dan tak mampu lagi bernapas. Lalu, hari ini tepat saat aku pulang dari kampus, melewati gang kompleks, aku kemudian menemukan seekor anak ayam dengan bulu sedikit lebat di bagian dada, namun terlihat renggang di bagian leher.  Kutelisik, lalu kudapati di bagian lehernya terdapat luka jeratan. Ah, kau Adel, bukan?  

Tiga bulan yang lalu, pada sebuah malam yang mencekat tepat di halaman rumahku, aku menyaksikan sebuah kematian yang mengerikan. Arista mengaum bagaikan serigala tatkala algojo ayahku menyeretnya dengan tidak berdaya lalu menggorok lehernya dengan beringas. Auman itu adalah suara terakhir yang kudengar dari mulutnya.

Dan tiga hari yang lalu, saat orang-orang meninggalkan pemakaman Adel yang masih basah, saat aku pun mulai beranjak mengikuti langkah orang-orang, mataku tiba-tiba menangkap sesuatu yang aneh. Sekitaran 30 meter dari pemakaman Adel, seekor serigala sedang menjulurkan lidahnya. Ia kelihatan menggali-gali sesuatu. Namun anehnya, di sekitar serigala itu aku tak menangkap adanya bayangan. Kumenengadah, matahari begitu cerah. Hhh, mungkin saja dia Arista.

Enam bulan yang lalu, sebuah kejadian yang seharusnya membuatku merasa kehilangan begitu besar, ketika melihat darah yang berlumur di depanku, mengucur dari wajah ibuku yang kelihatan tak berdosa. Ah, bullshit jika ia tak berdosa. Buktinya, ayahku tidak mungkin menyayat wajah ibuku yang berselingkuh jika memang selingkuh itu dianggap benar. Kubiarkan ibuku meringis kesakitan meregang nyawa hingga ia benar-benar tidak sanggup lagi menahannya. Kumenatapnya dalam, lalu ia membisikkan sebuah kalimat di telingaku. Kalimat yang hampir saja kuanggap tidak benar hingga kemudian aku mendapati kejadian-kejadian aneh dalam enam bulan terakhir ini.

Di bulan februari, sekitar empat bulan yang lalu, aku secara tidak sengaja berkunjung ke kediaman Arista. Saat kumelihat dalam mimpiku semalam, seorang menuntunku ke rumah itu, maka keesokan paginya aku pun menyambangi rumahnya. Tidak ada maksud apa-apa sama sekali, aku hanya menuruti ke mana kakiku melangkah, membawaku pergi.

Arista sedang tidak di rumah kala itu. Kata seorang tetangganya yang melihatku, Arista sedang berkunjung ke pemakaman di kota, sebuah rutinitasnya setiap minggu dalam dua bulan terakhir. Aku memutuskan untuk masuk, sebab hati nuraniku memaksakan hal itu. Kususuri rumah yang terlihat tidak terawat itu, sebuah kamar tanpa pintu berada di bagian belakang seakan punya magnet untuk menarikku ke arahnya. Aku pun masuk dan seberkas cahaya dari ventilasi menyilaukan pandanganku. Kumerunduk dan mendapati sebuah bingkai foto tergeletak di antara buku-buku yang berserakan.

Aku terkejut saat mendapati foto dalam bingkai tersebut adalah foto ibuku yang tengah bersandar dan Arista sedang di sampingnya memegangi perutnya. Kurasa aku menemukan sesuatu. Pikirku kala itu.

Kuambil foto itu dan cepat meninggalkan rumah Arista. Aku memilih kembali ke rumah, menyembunyikan foto yang kuambil dari rumah Arista itu di tempat yang sangat tersembunyi di kamarku. Sejak saat itu, aku akhirnya tahu siapa selingkuhan ibu.

Sungguh malang nasib Arista, kupikir foto yang kusembunyikan itu tidak akan ditemukan ayah, namun sebulan kemudian, foto itu berada di tangan ayah. Kemurkaan ayah memuncak dan memutuskan menyuruh para algojonya memenggal kepala Arista. Bukannya aku ngeri, aku hanya merasa jijik melihat darah yang menyembur dari leher Arista berserakan di halaman rumahku. 

Hari ini, aku kembali ke pemakaman. Mencari jawaban dari kejadian tiga hari yang lalu. Juga mencari petunjuk sekiranya aku bisa mengetahui ibu sekarang menjadi apa. Sejak kematiannya enam bulan yang lalu, aku belum juga mendapatkan tanda bahwa ibu terlahir sebagai apa.
Terlebih dahulu, kusempatkan menyambangi kuburan Adel yang masih begitu baru. Tiga puluh meter dari kuburan Adel, ada kuburan ibu sejak enam bulan yang lalu. Di sinilah jenazah ibuku ditanam dengan penuh kebencian oleh ayah.

Tidak ada tanda-tanda mencurigakan pada kuburan ibu, semua sama saat pertama kali ia ditinggalkan seorang diri di sini. Tidak ada ritual apapun saat pemakaman ibu kala itu. Tidak ada pembacaan doa untuknya, juga tidak ada tabur bunga di atas kuburnya. Ia ditinggalkan dalam keadaan kerontang.

Kalau ibu mengatakan bahwa kebangkitanmu adalah cerminan dari kematianmu, lantas seperti apa kebangkitannya sekarang jika ia mati dalam keadaan mengenaskan akibat perselingkuhan?
Tidak ada jawaban hingga kemudian petir bergemuruh begitu kerasnya. Langit tiba-tiba menjadi hitam, perlahan hujan pun turun begitu deras. Mengguyur tanpa ampun, membuatku tidak mampu berdiri kokoh. Tubuhku ambruk dihantam hujan, kepalaku kemudian menjadi begitu pusing saat aku melihat bulan di tengah-tengah hujan. Bulan yang sedang purnama, dan samar-samar kudengar auman serigala yang saling bersahut-sahutan. Ya, ada dua ekor serigala yang kudengar sebelum semuanya menjadi hilang. Aku pun tak berdaya. Dalam hati, aku masih sempat memanggil nama ibu. Yang pertama kalinya kupanggil ia dengan tulus setelah kematiannya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tetirah oleh Irhyl R Makkatutu

Novel Detektif yang Bikin Bungah (Ulasan Buku Pembunuhan di Nihonbashi)

Sastra Hijau dari Riau