Zaky Yamani telah Kembali dengan Karya Ciamik



Zaky Yamani bukan nama yang asing bagi saya. Perjumpaan pertama dengannya ketika secara tidak sengaja membaca Bandar, novelnya yang membuat saya serasa menemukan harta karun.

Di tahun 2017 itu, meskipun sudah sejak beberapa tahun sebelumnya ZY berkarya, namun barulah saya membaca karyanya di awal tahun tersebut. Itu pun sebenarnya tidak sengaja, tiba-tiba saja novelnya muncul di saran buku pada aplikasi baca iJakarta. Sekadar coba-coba siapa tahu menarik, eh ternyata benar. Berikutnya adalah novel terbaru ZY, Pusaran Amuk. Dengan modal ulang tahun di bulan Mei, seseorang akhirnya (terpaksa) mengajak saya ke gramedia Panakkukang untuk segera memiliki buku tersebut.
Nama Zaky Yamani dengan novel Bandar sempat beberapa kali saya sebut ketika berkuliah di Jogja dan ada yang bertanya-tanya siapa penulis yang menurut saya layak untuk dibaca karyanya. Lalu kemudian saya kecewa ketika di awal tahun 2018 membaca buku selanjutnya yang dikeluarkan ZY. Judul bukunya Bertarung Melawan Nasib Berdamai dengan Kehidupan. Kekecewaan saya begitu besar, bukan hanya buku tersebut mengkhianati ekspektasi saya, namun juga ZY itu sendiri. Saya mengenalnya melalui karya-karya fiksi yang ciamik, lalu mengapa dia perlu menuliskan buku biografi segala.
Selepas membaca buku biografi tersebut dan merasa kecewa, saya tidak lagi tertarik pada ZY. Semacam mengabaikan apa pun karya yang datang darinya di tahun-tahun berikutnya.
Tapi tahun ini, tepatnya Maret lalu, saya akhirnya berusaha untuk menengok kembali karya dari penulis yang sempat saya puja-puja itu. Tentu saja dengan membaca karya terbarunya, Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa.
Saya tidak menaruh ekspektasi tinggi pada novel ini, sehingga ketika mulai membacanya dan mendapati dialog-dialog yang ada di sana terasa kaku, saya tidak langsung menutup buku dan meninggalkannya. Novelnya bercerita tentang buku catatan harian seorang tokoh bernama Samiam, seorang Portugis yang memiliki perawakan dan juga nama yang tidak begitu Portugis. Lalu latar utama novel ini adalah Portugis, itulah sebabnya percakapan yang dicantumkan penulis terasa aneh ketika dibaca, seolah itu bukanlah percakapan yang datang dari tokoh-tokoh Portugis, namun dari tokoh-tokoh Indonesia. Dalam hal ini, saya merasa ZY masih kurang mampu menghadirkan dialog yang lebih kental gaya Portugisnya.
Butuh rasa penasaran yang cukup tinggi untuk bisa membaca buku ini hingga tuntas. Pada bagian-bagian awal masih terasa menjemukan dan belum memunculkan konflik yang berarti. Beruntungnya sebab memasuki halaman 200-an pembaca sudah disuguhi konflik dan benang-benang kusut yang terasa semakin menarik untuk diketahui uraiannya.
Buku ini direncanakan akan menjadi trilogi, dan bagi saya itu bukanlah niat yang ngasal. Toh pada akhirnya saya pun berani mengatakan bahwa semakin menemui akhir bab, semakin seru kisah di dalamnya untuk diikuti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tetirah oleh Irhyl R Makkatutu

Novel Detektif yang Bikin Bungah (Ulasan Buku Pembunuhan di Nihonbashi)

Khrisna Pabichara Sudah Berusaha (Ulasan atas Gadis Pakarena)