Khrisna Pabichara Sudah Berusaha (Ulasan atas Gadis Pakarena)
Khrisna Pabichara sudah berusaha. Terbilang ada 14 cerpen dalam buku Gadis Pakarena ini yang setiap judulnya memang dengan sengaja mengangkat tradisi-tradisi Bugis-Makassar. Saya tidak bercanda ketika bilang Krishna sudah berusaha, sebab memang demikian adanya. Dengan jujur saya mesti mengatakan bahwa keseluruhan cerita dalam kumcer ini terasa biasa saja, terkesan memaksa kadang-kadang, juga gaya penceritaannya yang sangat membosankan.
Tapi buku ini terbit 2012 lalu. Pada bagian belakang sampul juga terdapat keterangan bahwa Gadis Pakarena ini adalah karya fiksi pertama Khrisna. Maka, sebagai pembaca, saya bisa menerima jika cerita-cerita yang disajikan masih belum dapat disebut bagus ataupun menarik. Bahkan baru di cerpen pertama saja saya sudah merasa bosan. Kendati begitu, tetap kuhabiskan pula membacanya meski sempat pada beberapa bagian saya lewat-lewatkan saja.
Sedari judul, buku ini sebenarnya dapat dikatakan menarik. Penggunaan kata 'pakarena' di sana sudah sangat menunjukkan bahwa buku ini mengangkat bahasan-bahasan yang bersifat lokal. Hanya saja, itu tadi, bahwa Khrisna masih belum berhasil dalam usahanya.
Diperlukan kegabutan yang sangat untuk bisa menyelesaikan buku ini. Setidaknya itulah yang saya alami. Kalau bukan karena lagi pulang kampung, jaringan internet yang lelet, stok bacaan yang nyaris tidak ada, mana mungkin saya sanggup merelakan waktu saya untuk menamatkan 14 cerita pendek yang untuk disebut bagus saja belum.
Padahal bertahun-tahun lalu saya bahkan pernah menangis ketika membaca Sepatu Dahlan, lha kok pas baca Gadis Pakarena ini saya merasakan sensasi yang sangat bertolak belakang. Saya juga lupa bagaimana gaya penulisan Khrisna di Sepatu Dahlan, apakah memang lebih bagus dari Gadis Pakarena ini, atau ada pengaruh lain.
Hal lain yang saya dapati di buku ini adalah, begitu banyaknya testimoni dari para tokoh. Rasanya terlalu dibesar-besarkan, begitu digembor-gemborkan, padahal ya tidak se-wah itu juga. Namun ini bisa dijadikan acuan juga, sih. Bahwa buku yang bagus tidak membutuhkan begitu banyak testimoni pada bagian sampul bahkan ke dalam-dalamnya, karena jika ia memang bagus maka orang tak akan peduli adanya testimoni atau tidak.
Untuk buku ini, semoga tidak keterlaluan memberinya nilai 4/10.

Komentar