Kecolongan




Aku rasa tidak ada seorang pun yang ingin hanya berjumpa sekali saja dengan orang lain, menjadi akrab, sesekali bertukar kabar melalui media sosial, lalu tak lagi saling menyimpan nomor ponsel, hanya saling memantau melalui linimasa, salah satunya rehat sejenak dari dunia medsos dan akhirnya terlambat tahu bahwa kenalannya itu sudah berpulang ke pelukan Sang Pengasih.

Kami berkenalan dan berjumpa pertama kali sekaligus terakhir kalinya ya di Jogja. Seingatku awal tahun 2019 saat teman KKN-ku mengabari bahwa ia sedang di Jogja dan meminta waktuku bertemu apabila sempat. Kebetulan saat itu ada teman dari Makassar yang juga berkunjung ke Jogja, maka sekalian saja kuajak jalan-jalan ke alun-alun.
Awalnya kami hanya bertiga, ada aku, Nirah, dan teman KKN-ku itu. Kami sempat naik odong-odong, berfoto ria, ngobrol sebentar hingga kemudian teleponnya berdering. Suara seorang perempuan di seberang sana yang ternyata pacarnya hendak menyusul kami.
Sebut saja namanya AR. Dia perempuan yang ceria, tidak pemalu meski baru berkenalan, pandai mencairkan suasana, dan yang paling penting, dia tidak keberatan ngobrol panjang lebar kepada kami hingga larut malam tanpa merasa risih waktu berkencannya kami kudeta.
Dari obrolan malam itu aku tahu kalau dia sedang mengurus pendaftaran S2 di salah satu kampus di Jogja. Sebelum berpisah kita juga sempat follow-followan di instagram, berbagi nomor whatsapp, dan berteman di facebook.
Waktu berlalu begitu saja. Kami masih sering saling komen story di instagram, atau status whatsapp kalau ada yang dirasa pas untuk dikomentari. Tidak banyak pesan yang sengaja dikirim untuk hanya sekadar menanyakan kabar, semuanya dibiarkan mengalir begitu saja melalui komentar-komentar pada beberapa story ataupun status.
Pertengahan 2019 salah satu kenalan kami bersama mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Saat itu AR menghubungiku duluan, melalui DM instagram dan juga pesan whatsapp yang ternyata sudah menggunakan nomor baru lagi. Kami berduka bersama lalu kemudian tidak saling berkabar lagi. Statusnya di whatsapp juga sudah tidak pernah muncul, aku menduga dia berganti nomor lagi dan saat itu aku masih malas untuk mengunjungi profilnya yang lama untuk menyimpan nomor barunya. Kemalasan yang ternyata berlarut-larut hingga kami benar-benar tak lagi berteman di whatsapp.
Meski tak lagi berteman di WA namun aku masih bisa update mengenai dirinya melalui linimasa facebook. Dia beberapa kali mengunggah foto sayur-sayuran yang dijualnya, sesekali aku masih mampir memberikan komentar.
Meski tahu dulu dia sempat mengurus pendaftaran kuliah S2 di Jogja, meski tahu teman KKN-ku yang dulu kekasihnya kini menikah dengan orang lain, aku sama sekali tak ada niat untuk mempertanyakan itu semua. Pasti ada sesuatu yang membuatnya tidak jadi lanjut studi. Bisa karena keputusannya sendiri atau memang dari pihak lain, namun pasti berat sekali rasanya harus mengubur mimpi itu. Aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman dengan pertanyaan. Perihal putusnya hubungan dia dan teman KKN-ku mestilah karena kesepakatan bersama. Maka tidak elok mencampuri urusan mereka. Kurasa diam saja adalah sikap terbaik yang bisa kulakukan.
Aku tidak pernah menduga sama sekali bahwa keputusanku untuk uninstall aplikasi facebook di ponsel bisa membuahkan penyesalan. Percayalah, terlambat berbulan-bulan mengetahui kenalanmu telah berpulang akan menyisakan perasaan sedih tak terperi. Padahal kau bisa saja tahu lebih cepat kalau saja media sosialmu masih diaktifkan.
Kabar duka itu baru kuterima ketika teman KKN-ku secara tiba-tiba menelepon. Kutahu dia sudah punya istri, namun saat itu entah kenapa aku tetap ingin mencandainya dengan menanyakan perihal berpisahnya ia dengan AR. Pertanyaan yang tidak dijawabnya, namun ia justru mengabariku bahwa AR meninggal dunia sejak tahun lalu (cat. obrolan ini terjadi Agustus 2022).
Aku merasakan dadaku kosong. Mataku serta-merta sembab dan sesaat mulutku ternganga tidak dapat mengucapkan sesuatu. Aku merasa kecolongan. Di dalam hatiku cuma ada pertanyaan yang kutujukan pada diri sendiri.
Kenapa aku tidak pernah memeriksa keadaannya?
Kenapa aku tidak pernah berpikir untuk membuka facebook agar tahu lebih banyak tentang teman-temanku?
Kenapa aku begitu ceroboh merawat pertemanan?
Tanpa menunggu lagi aku langsung login akun, memeriksa profil AR dan mendapati ucapan duka sejak setahun lalu dikirimkan oleh orang-orang dekatnya yang merasa kehilangan.
Seharusnya ucapanku juga ada di sana. Harusnya aku turut merapalkan doa saat kepergiannya kala itu.
Lapang kuburmu, AR sayang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tetirah oleh Irhyl R Makkatutu

Novel Detektif yang Bikin Bungah (Ulasan Buku Pembunuhan di Nihonbashi)

Khrisna Pabichara Sudah Berusaha (Ulasan atas Gadis Pakarena)