Dunia Modern yang Nyeleneh

Dunia modern kini semakin gila memperlakukan perempuan. Orang-orang yang hidup di dalamnya, tidak peduli laki-laki ataupun perempuan memberikan standar hidup bagi orang lain sesuai dengan pandangan mereka. Apa yang dipikirkan dan dilihatnya dianggap kebenaran, bahkan dalam urusan pernikahan yang merupakan hak orang lain untuk menentukan kapan sebaiknya mereka memulai hidup baru dalam rumah tangga pun ikut dicampuri. Yang paling miris adalah, standar kecantikan perempuan justru diukur dari berat badan. Semakin kurus perempuan, semakin sempurna dia di mata orang-orang modern.
Lalu di mana letak orang-orang dengan berat badan yang berada di atas 45 kilogram? Sebab standar kurus mereka—orang-orang modern itu—adalah perempuan dengan berat badan yang tidak melebihi angka 45 kilogram. Miris sekali sebenarnya menghadapi kenyataan ini. Bahwa tidak hanya laki-laki yang menetapkan standar perempuan cantik itu harus bertubuh kurus, namun dari kalangan perempuan sendiri, seringkali mengucilkan teman-teman perempuannya yang bertubuh gemuk. Padahal sekiranya mereka memahami bahwa ukuran kecantikan yang sebenarnya adalah apa yang terdapat dalam diri mereka, dalam hati mereka.
Meski masih banyak perempuan yang tidak peduli soal berat badan—dan ini dari golongan mereka yang bertubuh gemuk—namun perlahan mereka mulai risih. Pada awalnya seolah tidak peduli dan mensyukuri bentuk tubuh yang dimiliki, namun semakin lama, semakin banyaknya komentar orang-orang sekitar tentang bentuk tubuhnya yang katanya tidak ideal, mereka pun mulai goyah. Barangkali bentuk tubuhnya memang mengganggu penglihatan orang lain sehingga wajar jika ia selalu mendapatkan teguran. Pertanyaan-pertanyaan tentang jumlah berat badan menjadi sesuatu yang lebih sering didengar dibandingkan dengan pertanyaan seputar kabar dan kesibukan hari itu. Hal ini semakin menjadi-jadi dengan banyaknya teman-teman dekat atau orang-orang yang bahkan tidak begitu dekat kemudian melontarkan guyonan yang menyindir mereka yang bertubuh gemuk. Barangkali mereka bermaksud bercanda, namun bukankah masih banyak bahan yang bisa dijadikan candaan dibanding harus menggunakan tubuh seseorang—yang justru anugerah dari Tuhan—untuk djadikan bahan tertawaan.
Perempuan dengan tubuh gemuk kemudian mulai mengucilkan diri. Dianggapnya itu adalah kesalahan dirinya yang tidak tahu mengatur pola hidup sehat. Loh, haruskah sehat ditentukan oleh bentuk tubuh dan berat badan? Lalu diet pun dimulai dan tentu saja itu bukan hal yang mudah. Semacam sebuah tindakan penyesalan terhadap angka di atas 45 kilogram itu yang kenyataannya menyiksa dirinya sendiri. Pola diet dilakukan dengan berbagai macam cara. Ada yang mengkonsumsi teh hangat bercampur jeruk nipis setiap paginya, yang sebenarnya bukan sesuatu yang sehat bagi rahim seorang perempuan. Adapula yang menahan rasa lapar di malam hari, tidak ingin makan lagi karena menurut sumber yang didapatkannya, tidak makan malam adalah salah satu cara untuk diet.
Perempuan tidak seharusnya didiskriminasi hanya karena bentuk tubuh yang lebih besar dari orang lain. Bila laki-laki seringkali bangga menampakkan perut buncit dan membandingkannya dengan perempuan hamil, maka tidak ada alasan bagi perempuan untuk merasa malu dan minder dengan tubuh montoknya.
Belum lagi pertanyaan ‘kapan nikah’ yang sering dilontarkan pada perempuan yang baru saja lulus kuliah strata satu. Seakan usia dua puluh dua adalah waktu yang wajib bagi perempuan untuk mengakhiri masa lajang. Para perempuan kemudian mengalami keresahan yang besar. Beruntung bagi mereka yang memiliki pacar bisa memaksa pasangannya untuk segera menikahi. Namun mereka yang memiliki prinsip lain untuk tidak menjalin hubungan sebelum halal mengalami keresahan yang lebih besar lagi. Tidak ada yang bisa dipaksa untuk segera menghalalkan dan tanda-tanda jodoh pun sepertinya belum nampak. Perempuan kemudian jadi korban artikel-artikel, video-video berseliweran di media sosial. Artikel dan video yang semakin menegaskan bahwa menikah di usia muda sudah seharusnya dilakukan perempuan. Barangkali ada yang tidak terlalu peduli soal pertanyaan ‘kapan nikah’, tidak bawa perasaan jika diberondong dengan pertanyaan serupa berkali-kali. Syukurlah jika sebagian kecil perempuan lajang berpikiran demikian. Namun kenyataannya, golongan perempuan yang dirisaukan oleh pertanyaan tersebut dan akhirnya benar-benar kebelet nikah berjumlah lebih banyak.
Seorang teman pernah mengakui dirinya hampir saja menikah hanya karena bosan ditanya ‘kapan nikah’ dari orang-orang di sekitranya. Dan dia bukan satu-satunya perempuan yang mengalami hal tersebut. Banyak saudara perempuan kita yang akhirnya jadi korban pertanyaan aneh yang mentradisi itu. Bagaimana pun juga, dia harus segera menikah dan membuktikan bahwa dia lebih laku dari perempuan lainnya. Mereka menjadikan pernikahan sebagai ajang perlombaan, dan siapa yang lebih dulu dialah yang dianggap beruntung karena laku begitu cepat.
Perempuan adalah korban dari pertanyaan-pertanyaan nyeleneh semacam ‘berat badanmu sekarang berapa?’ dan ‘kamu kapan nyusul?’. Orang-orang mendapatkan pertanyaan lain pengganti dari ‘apa kabar’ yang justru merupakan sesuatu yang lebih sopan untuk ditanyakan karena tidak sampai harus menguliti hingga ke urusan pribadi seseorang. Soal berat badan dan menikah itu urusan pribadi masing-masing, mengapa kita terlalu peduli pada privasi orang lain. 
Hingga kemudian pada akhir tulisan ini saya hanya akan mengatakan bahwa menjalani hidup tanpa peduli pendapat orang lain adalah sebuah kebahagian tersendiri. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tetirah oleh Irhyl R Makkatutu

Novel Detektif yang Bikin Bungah (Ulasan Buku Pembunuhan di Nihonbashi)

Khrisna Pabichara Sudah Berusaha (Ulasan atas Gadis Pakarena)