Semacam Renungan Sebelum atau Setelah Menjadi Penghafal

 


Sudah menjelang akhir ramadhan ketika saya dapati buku ini di iPusnas. Seperti kenal dengan sampulnya, benar saja buku ini pernah lewat di linimasa, karya seorang teman (kakak tingkat) semasa kuliah dulu. Meski judulnya seperti begitu spesifik, yaitu semacam ditujukan untuk para penghafal Qur'an, namun saya tetap mencobanya. Toh mumpung bulan ramadhan, mungkin tidak ada sia-sianya membaca buku bertema keagamaan.
Buku ini tipis saja, bisa dibaca sekali duduk dengan teknik skipping. Terutama untuk pembaca yang pernah belajar di bangku pesantren atau mengambil jurusan keagamaan ketika berkuliah. Pembahasan-pembahasan di dalamnya beberapa sudah pernah didengarkan sebelumnya, oleh karena itu buku ini sebenarnya tidak begitu baru dari segi konten. Hanya saja saya senang sekali ketika penulis memaparkan bagaimana seorang muslim dapat berinteraksi dengan Qur'an. Di sana dituliskan cara pertama dengan membacanya, cara kedua memahami maknanya, cara ketiga menghafalkannya.
Urutan yang dimasukkan penulis menurut saya sudah pas. Bukannya ia (mereka berdua) memaksakan bahwa menghafal Qur'an mempunyai posisi yang lebih utama, bahkan mengalahkan posisi memahami makna. Saya tidak menyangka apa yang saya cari ternyata langsung disodorkan pada bagian-bagian awal. Jujur saja tujuan utama saya membaca buku ini untuk menemukan bagaimana pandangan penulis terhadap interaksi manusia dengan Qur'an, apakah mereka meletakkan menghafal Qur'an di posisi yang lebih utama? Nyatanya tidak, dan itu melegakan.
Buku ini rasa-rasanya dialihkan dari makalah ilmiah, atau jika pun bukan, artinya buku ini sedari awal ditulis untuk menjadi sebuah buku, maka ada yang ganjil dari segi gaya penulisannya. Saya menangkap kesan itu tadi, bahwa tampilan buku ini, pun penggunaan gaya bahasanya hampir keseluruhan terasa seperti karya ilmiah yang dibuat untuk perkuliahan yang kemudian disulap menjadi buku populer. Sebenarnya pada bagian ini bukan murni kekeliruan penulis, tapi lebih kepada editor dan juga sebagian tugas dari penata letaknya.
Kalau saja editornya bekerja lebih serius, saya yakin buku ini akan tampil menjadi tulisan populer yang lebih baik lagi dan tidak terasa kaku pada banyak bagian.
Gaya bahasa yang digunakan semi formal menjurus ke formal, namun di halaman 11 juga 29 saya sedikit kaget ketika mendapati kalimat "banyak banget...."
Kata 'banget' yang digunakan penulis secara tiba-tiba justru terasa mengganggu. Setelah berpanjang-panjang menggunakan bahasa rada formal, mengapa tiba-tiba muncul kalimat itu yang menimbulkan kesan sangat tidak formal. Namun itu pendapat pribadi saya saja. Orang lain mungkin tidak merasa demikian. Lagi-lagi, pada bagian ini sang editor harusnya bekerja dengan lebih baik.
Terakhir, yang juga mencuri perhatian saya adalah sapaan yang digunakan penulis. Di sini penulis menyapa pembaca dengan 'sahabat Qur'an', sebuah sapaan yang bisa jadi membuat beberapa pembaca merasa bahwa bukunya ditujukan untuk orang-orang tertentu, yaitu sekelompok penghafal Qur'an atau orang-orang yang sedang berniat menghafalkan Qur'an. Saya pribadi merasakan hal yang demikian. Sempat terlintas, "oh buku ini lebih layak dibaca para penghafal."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tetirah oleh Irhyl R Makkatutu

Novel Detektif yang Bikin Bungah (Ulasan Buku Pembunuhan di Nihonbashi)

Khrisna Pabichara Sudah Berusaha (Ulasan atas Gadis Pakarena)