Terkekangnya Daya Kritis Komika Indonesia
![]() |
| (Komika Stand up comedy show Serius Ini Tidak Serius) |
Stand up comedy bisa dibilang tidak benar-benar baru di
Indonesia. Walau puluhan tahun lalu masih berupa lawakan-lawakan tunggal yang
kemudian digantikan dengan grup lawak trio dan berkembang menjadi comedy
cafe. Ya, awalnya masih berupa
penampilan-penampilan di cafe oleh komika yang ada di kota besar. Sebutlah
nama Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Mongol Stres dan beberapa komika
lainnya. Seiring berjalannya waktu, stand up comedy mengadakan kompetisi
selayaknya kompetisi bakat bernyanyi, menari, sulap, seperti yang sering
ditampilkan di televisi. Stand up comedy ini juga ditampilkan di
televisi namun sekali pun tidak pernah disiarkan secara langsung. Setidaknya dalam
kompetisi, acara stand up comedy tidak ditayangkan secara langsung. Adapun
yang sekadar mengundang satu dua orang komika sebagai bintang tamu untuk membawakan
materi sesuai dengan acara masih kadang
kita temukan. Sebutlah Raim Laode yang pernah tampil secara langsung di acara
dangdut Indosiar. Lalu mengapa stand up comedy sangat anti untuk
ditayangkan secara langsung? Kita tahu bahwa ajang stand up comedy sangatlah
berbeda dari ajang lainnya. Orang yang melakukan stand up comedy atau
yang kita sebut komika adalah mereka yang memiliki selera humor di atas
rata-rata dan daya kritis yang tinggi. Lelucon yang mereka sampaikan berasal dari
keresahannya terhadap keadaan sekitar, bisa jadi pengalaman prdibadi, bisa pula
pengalaman orang lain yang pernah didengarkannya.
![]() |
| (Aisnul Arisandi pada Pesta Komunitas di Benteng Rotterdam) |
Sebenarnya penulis pun demikian. Opini-opini yang kita temukan di
koran-koran atau artikel online lainnya sejatinya berasal dari keresahan
penulisnya. Seperti pula tulisan ini. Bedanya, opini dikemas secara serius
sedangkan komedi dikemas untuk dapat ditertawai namun tetap dapat peroleh pesan
di dalamnya. Adapula tulisan fiksi yang bisa berbentuk puisi, cerita pendek,
ataupun novel. Tidak sedikit tulisan fiksi yang sengaja dikarang sebagai bentuk
sindiran akan kejadian yang ada di sekitar. Tulisan fiksi bahkan secara bebas
memaparkan hal-hal vulgar sebagai bentuk
utuh dari sebuah cerita. Tersebutlah beberapa tulisan Eka Kurniawan, Ayu Utami
atau beberapa penulis lainnya yang seakan mencirikan tulisan mereka dengan hal
tersebut. Namun bila kau benar-benar khusyuk membacanya, akan kau dapati bahwa
tulisan tersebut bukan karya vulgar. Lalu mengapa komika justru harus
berhati-hati dengan yang demikian? Barangkali karena stand up comedy
formatnya show. Maka penikmatnya tentu saja jauh lebih banyak, jangan
bandingkan dengan buku bacaan. Selain itu, yang lebih menakutkan dari sebuah show
adalah gampangnya vidio tersebut untuk diedit ataupun disebarluaskan. Maka sedikit-sedikit,
komika bisa dengan mudah dituduh penistaan, dituding menyinggung SARA,
materinya dianggap sampah dan kurang bermorallah, dan sebagainya. Tapi coba
kita renungkan baik-baik. Komika yang dituduh menista itu, apa memang benar
mereka bermaksud demikian? Atau kita hanya ingin unjuk kegagahan dan pamer
bahwa kita ini mayoritas. Atau justru karena komika itu mengatakan yang
sebenarnya. Kita merasa begitu tersindir dengan kelakuan kita yang berlebihan
dan bersembunyi di balik dalih agama untuk membenarkan sesuatu yang selama ini
kita puja. Mentang-mentang kita segolongan dengannya makanya kita membawa-bawa
nama Tuhan sebagai pendukung. Sebaliknya jika bukan golongan kita, dengan
mudahnya menjelekkan orang dengan dalih membela agama. Barangkali kita adalah
orang-orang tersebut, yang keras menuduh golongan lain sebagai kafir namun lunak
dan gampang memaklumi golongan sendiri.
“Kau itu membela agama
Islam dengan menyakiti sesama muslim. Kalianlah yang sebenarnya banyak dibela
oleh Islam, bukan kalian yang mesti membela Islam.”
(Cak Nun)
![]() |
| (Adriyan Wardhana pada Stand up Comedy Show Funtastic Four) |
Dengan banyak dan seringnya komika yang
dituding sebagai penista, dilaporkan karena dianggap menyinggung SARA tanpa
perlu mendengarkan klarifikasi dari komika yang bersangkutan menjadi ancaman
besar akan kelanjutan komunitas stand up yang ada di berbagai daerah di
Indonesia. Secara tidak langsung para anggota komunitas-komunitas ini akan
merasa dikekang kebebasan berfikirnya, dibatasi kebebasannya dalam mengeluarkan
pendapat. Barangkali mereka akan tetap bertahan, tapi tidak menutup kemungkinan
banyak dari mereka yang memilih berhenti dengan dunia penuh risiko tersebut. Tapi
anggaplah mereka yang bertahan untuk terus menghibur itu, apakah kualitas
lelucon mereka tetap kritis atau hanya sekadar lelucon tanpa makna. Bukan karena
mereka tidak mampu menyusun materi yang kritis, namun karena mereka tidak ingin
mengambil risiko dilaporkan atas sebab materi yang dianggap kurang sopan oleh
para penonton latah. Lantas harus bagaimana kita? Bukankah masyarakat kita ini
pada kurang piknik makanya mereka butuh hiburan? Lalu ketika mereka dihibur
dengan lelucon yang kritis justru dianggapnya berlebihan. Ah, mereka ini
ternyata hanya menikmati lelucon receh. Kodian.
![]() |
| (Yayat pada Stand up Comedy Show Jam Istirahat) |
Barangkali setiap orang sudah pernah
mendengar, kisah tentang orang kampung yang suatu hari berkunjung ke kota dan
hendak masuk ke toko. Hanya karena di pintu tok tertulis kata ‘open’ ia
lantas menghentikan langkah. Dianggapnya itu adalah sebuah alat memanggang kue
sebagaimana yang sering mereka gunakan. Lalu tak lama kemudian seorang Papua
keluar dari toko tersebut dan orang kampung ini kemudian bergumam, untung saya
tidak masuk, hampir saja bernasib sama sepertinya. Di waktu kecil, kita tertawa
mendengar lelucon ini diceritakan oleh orang-orang di sekitar. Tidak ada yang
tahu siapa yang mempopulerkannya dan kita seolah-olah tidak butuh tahu. Tanpa sadar
kita telah menyinggung salah satu ras yang ada di Indonesia. Andai saja bukan
sebuah lelucon, tentu orang Papua akan sangat tersinggung. Ia disamakan dengan
daging yang baru dipanggang hingga hangus.
![]() |
| (Adda Ardiyansyah pada Stand up Comedy Show Serius Ini Tidak Serius) |
Lantas mengapa saat ini kita dengan mudah
tersulut oleh materi komika yang bermaksud kritis. Eyang Habibie bahkan sangat
mengapresiasi hal tersebut. Ketika ditanya oleh Najwa mengenai joke yang
disampaikan dengan maksud menyindir, Habibie menyatakan bahwa itu lebih
berbudaya. It’s ok untuk membuat joke dalam menyatakan kritik. (Eyang
habibie Menjawab Soal Kids Zaman Now-Channel Youtube Mata Najwa)
![]() |
| (Lutfi Ramadhan pada Stand up Nite 7) |
“Padahal banyak kesenian-kesenian lain yang
sangat amat jelas cara mengkritiknya lebih tajam. Lalu kenapa stand up comedy
yang diserang sebagai medium berekspresi? Karena stand up comedy adalah
kesenian yang mainstream (sering muncul di tv). Ya susah sih kalau tahunya cuma
stand up tv saja haha.” (Lutfi Ramadhan-Anggota Stand up Indo Makassar)
saya mengenal beberapa komika Makassar dan
saya mendapati bahwa orang-orang seperti mereka adalah anak muda yang tidak
mudah dihasut oleh berita-berita hoax ataupun berita-berita penuh adu
domba. Di tengah mudahnya anak muda sekarang diadu domba, mereka bertindak
sebaliknya. Maka dunia komika ini sebenarnya tempat di mana kau sebagai anak
muda tidak boleh bawa perasaan (baper) dengan gampangnya. Saya sering mendapati
mereka saling mengejek namun mereka tetap tertawa, mereka tetap jalan bersama, mereka
tetap berbagi makanan, mereka bahkan tidur saling memeluk tanpa sadar.
![]() |
| (Temukan Virgoun di antara mereka) |







Komentar